Alat Alat Dibawah Ini yang Bekerja Berdasarkan Hukum Archimedes

Alat Alat Dibawah Ini yang Bekerja Berdasarkan Hukum Archimedes

Smallest Font
Largest Font

Memahami fenomena mengapa benda raksasa seperti kapal pesiar tidak tenggelam memerlukan pemahaman mendalam tentang fisika fluida yang telah ditemukan ribuan tahun lalu. Pertanyaan mengenai alat alat dibawah ini yang bekerja berdasarkan hukum archimedes adalah sering muncul dalam studi fisika dasar untuk menguji pemahaman kita terhadap gaya angkat ke atas atau gaya apung (buoyancy). Prinsip ini menyatakan bahwa benda yang dicelupkan sebagian atau seluruhnya ke dalam zat cair akan mengalami gaya ke atas yang besarnya sama dengan berat zat cair yang dipindahkan oleh benda tersebut.

Hukum ini bukan sekadar teori tekstual di buku sekolah, melainkan fondasi utama yang memungkinkan manusia menaklukkan lautan dan udara. Tanpa penemuan Archimedes dari Syracuse ini, kita tidak akan pernah mengenal teknologi kapal selam, sistem transportasi laut yang efisien, hingga navigasi balon udara di angkasa. Mari kita bedah secara komprehensif berbagai alat yang mengandalkan prinsip fisika ini dalam operasional sehari-harinya.

Bunyi Hukum Archimedes dan Konsep Dasar Fluida

Sebelum masuk ke daftar alatnya, penting untuk memahami esensi dari hukum ini. Archimedes merumuskan bahwa ada hubungan linier antara volume benda yang tercelup dengan gaya angkat yang diterima. Secara matematis, gaya apung (Fa) dirumuskan dengan perkalian antara massa jenis fluida, percepatan gravitasi, dan volume benda yang tercelup. Konsep ini melahirkan tiga kondisi utama bagi benda di dalam air: mengapung, melayang, dan tenggelam.

Kondisi mengapung terjadi saat gaya angkat lebih besar atau sama dengan berat benda. Melayang terjadi ketika massa jenis benda sama persis dengan massa jenis fluida, sedangkan tenggelam terjadi jika berat benda melebihi kemampuan fluida untuk memberikan gaya angkat. Prinsip manipulasi massa jenis inilah yang menjadi rahasia utama dibalik kecanggihan alat-alat modern saat ini.

Daftar Alat yang Bekerja Berdasarkan Hukum Archimedes

Berikut adalah beberapa contoh nyata alat dan teknologi yang memanfaatkan hukum Archimedes untuk dapat berfungsi dengan optimal di lingkungan cair maupun gas.

1. Kapal Selam

Kapal selam merupakan contoh paling kompleks dan sempurna dari penerapan hukum Archimedes. Alat ini memiliki kemampuan unik untuk mengapung, melayang, dan tenggelam di kedalaman laut yang berbeda. Rahasianya terletak pada komponen yang disebut dengan tangki ballast.

Ketika kapal ingin menyelam, tangki ballast akan diisi dengan air laut, sehingga berat total kapal meningkat dan melebihi gaya apung. Sebaliknya, saat ingin naik ke permukaan, air di dalam tangki dikeluarkan menggunakan kompresi udara, sehingga massa jenis rata-rata kapal menjadi lebih kecil dari air laut dan kapal pun terdorong ke atas.

Diagram tangki ballast kapal selam
Mekanisme pengisian dan pengosongan tangki ballast pada kapal selam sesuai hukum Archimedes.

2. Hidrometer

Mungkin bagi masyarakat umum, hidrometer tidak sepopuler kapal selam, namun di dunia industri dan laboratorium, alat ini sangat krusial. Hidrometer adalah alat yang digunakan untuk mengukur massa jenis atau densitas suatu zat cair. Alat ini berbentuk tabung kaca yang bagian bawahnya diberi beban agar dapat berdiri tegak dalam cairan.

Cara kerjanya sangat bergantung pada hukum Archimedes: semakin rendah massa jenis zat cair, maka hidrometer akan tenggelam lebih dalam. Sebaliknya, pada cairan yang sangat pekat atau memiliki massa jenis tinggi, hidrometer akan lebih banyak muncul di permukaan. Skala yang tertera pada batang hidrometer menunjukkan nilai densitas zat cair tersebut secara akurat.

3. Balon Udara

Meskipun beroperasi di udara, balon udara tetap mengikuti prinsip Archimedes karena udara sendiri adalah fluida (zat yang dapat mengalir). Agar balon dapat terbang, udara di dalam balon dipanaskan menggunakan pembakar (burner). Udara panas memiliki massa jenis yang lebih rendah dibandingkan udara dingin di sekitarnya.

Perbedaan massa jenis ini menciptakan gaya angkat ke atas yang cukup besar untuk mengangkat beban balon beserta penumpangnya. Prinsip yang sama juga berlaku pada balon gas yang diisi dengan helium atau hidrogen, karena kedua gas tersebut secara alami jauh lebih ringan daripada oksigen dan nitrogen di atmosfer.

4. Galangan Kapal

Galangan kapal atau floating dock digunakan untuk memperbaiki kapal besar yang mengalami kerusakan di bagian bawah lambung. Alat ini bekerja seperti pelampung raksasa. Galangan kapal akan ditenggelamkan sebagian dengan mengisi tangki-tangkinya dengan air, kemudian kapal yang akan diperbaiki dimasukkan ke atas galangan tersebut. Setelah itu, air di dalam galangan dipompa keluar sehingga galangan beserta kapal di atasnya terangkat ke permukaan air.

Galangan kapal terapung mengangkat kapal besar
Galangan kapal memanfaatkan gaya apung ekstra untuk mengangkat beban ribuan ton ke permukaan.

5. Jembatan Ponton

Jembatan ponton adalah jembatan darurat yang terbuat dari deretan drum kosong atau tong besi yang tertutup rapat dan berisi udara. Karena rongga di dalam drum tersebut berisi udara, maka massa jenis drum menjadi sangat kecil. Sesuai hukum Archimedes, drum-drum ini akan menghasilkan gaya apung yang sangat besar yang mampu menahan beban kendaraan atau manusia yang melintas di atasnya.

Nama AlatKomponen UtamaPenerapan Archimedes
Kapal SelamTangki BallastMengatur volume air untuk merubah massa jenis total.
Kapal LautLambung BeronggaMemindahkan volume air besar agar gaya angkat maksimal.
HidrometerTabung BerskalaKedalaman celup berbanding terbalik dengan densitas fluida.
Balon UdaraUdara Panas/HeliumMassa jenis gas dalam balon lebih kecil dari udara luar.
Jembatan PontonDrum/Tong UdaraPemanfaatan rongga udara untuk menciptakan gaya apung statis.

Mekanisme Gaya Apung pada Kapal Laut yang Berbahan Besi

Seringkali muncul pertanyaan kritis: Mengapa sepotong jarum besi tenggelam, sementara kapal laut yang terbuat dari ribuan ton baja bisa mengapung? Jawabannya terletak pada volume rata-rata. Kapal laut didesain dengan lambung yang sangat luas dan berongga. Rongga ini berisi udara yang sangat banyak.

"Sebuah benda akan tetap mengapung selama berat total benda tersebut lebih kecil dari berat fluida yang dipindahkan oleh volume bagian benda yang tercelup."

Karena volume kapal yang tercelup sangat besar, maka volume air laut yang dipindahkan juga sangat besar. Berat air laut yang dipindahkan inilah yang menjadi gaya dorong ke atas. Selama gaya dorong ini lebih besar dari berat total baja dan muatan kapal, maka kapal tersebut akan tetap berada di permukaan air dengan aman.

Lambung kapal laut yang berongga
Desain lambung berongga meningkatkan volume air yang dipindahkan untuk menciptakan gaya apung optimal.

Analisis Masa Depan Teknologi Berbasis Fluida

Evolusi teknologi yang berbasis pada hukum Archimedes terus berkembang. Saat ini, para insinyur sedang mengembangkan konsep kota terapung (floating cities) sebagai solusi atas kenaikan permukaan air laut akibat perubahan iklim. Proyek ini sepenuhnya mengandalkan perhitungan presisi gaya apung untuk memastikan fondasi bangunan tetap stabil di atas air dalam jangka waktu yang sangat lama.

Selain itu, dalam eksplorasi ruang angkasa, prinsip yang mirip dengan Archimedes digunakan dalam tangki bahan bakar roket cair untuk mengelola distribusi massa saat peluncuran. Memahami alat-alat di sekitar kita yang bekerja berdasarkan prinsip ini memberikan apresiasi lebih terhadap kejeniusan sains klasik yang tetap relevan hingga era modern. Kesimpulannya, penguasaan atas alat alat dibawah ini yang bekerja berdasarkan hukum archimedes adalah kunci dalam memahami bagaimana manusia memanipulasi hukum alam untuk kemudahan transportasi dan industri di seluruh dunia.

Editors Team
Daisy Floren

What's Your Reaction?

  • Like
    0
    Like
  • Dislike
    0
    Dislike
  • Funny
    0
    Funny
  • Angry
    0
    Angry
  • Sad
    0
    Sad
  • Wow
    0
    Wow