Penggolongan Hukum Material dan Formal dalam Sistem Hukum Indonesia

Penggolongan Hukum Material dan Formal dalam Sistem Hukum Indonesia

Smallest Font
Largest Font

Dalam studi ilmu hukum, pemahaman mengenai klasifikasi atau pembagian norma-norma hukum sangatlah krusial untuk menentukan bagaimana sebuah aturan diterapkan di masyarakat. Salah satu pertanyaan mendasar yang sering muncul adalah mengenai hukum material dan formal merupakan penggolongan hukum berdasarkan kriteria apa? Jawabannya adalah berdasarkan isinya atau wujudnya. Pembagian ini memisahkan antara substansi aturan yang mengatur hak dan kewajiban dengan mekanisme atau tata cara bagaimana aturan tersebut dipertahankan di hadapan lembaga peradilan.

Sistem hukum di Indonesia yang menganut tradisi Civil Law sangat mengedepankan kodifikasi aturan secara tertulis. Oleh karena itu, pemisahan antara hukum material dan formal bukan sekadar teori akademis, melainkan landasan operasional bagi aparat penegak hukum seperti polisi, jaksa, hakim, hingga advokat. Tanpa adanya pemisahan yang jelas, kepastian hukum akan sulit dicapai karena tidak ada standar prosedur yang baku dalam menegakkan substansi hukum yang dilanggar. Artikel ini akan mengupas tuntas perbedaan mendalam antara kedua jenis hukum tersebut, fungsi masing-masing, serta contoh implementasinya dalam tata hukum nasional.

Memahami Esensi Hukum Material dalam Sistem Peradilan

Hukum material adalah jenis hukum yang menitikberatkan pada isi atau substansi dari sebuah peraturan. Ia mengatur tentang kepentingan-kepentingan, hubungan-hubungan hukum, serta perbuatan-perbuatan apa yang dilarang atau diperbolehkan. Secara sederhana, hukum material menetapkan apa yang boleh dan tidak boleh dilakukan oleh subjek hukum (manusia atau badan hukum) serta sanksi apa yang akan diterima jika terjadi pelanggaran.

Hukum material menentukan isi dari suatu perjanjian, hak milik, status perkawinan, hingga batasan-batasan tindak pidana. Di Indonesia, contoh paling nyata dari hukum material adalah Kitab Undang-Undang Hukum Pidana (KUHP) dan Kitab Undang-Undang Hukum Perdata (KUHPer). Dalam KUHP, dijelaskan secara rinci apa yang dimaksud dengan pencurian, pembunuhan, atau penipuan. Tanpa hukum material, masyarakat tidak akan memiliki pedoman mengenai standar perilaku yang diharapkan dalam kehidupan bernegara.

Buku KUHP dan KUHPerdata sebagai contoh hukum material
KUHP dan KUHPerdata merupakan pilar utama hukum material di Indonesia yang mengatur substansi perbuatan hukum.

Karakteristik Utama Hukum Material

Hukum material memiliki beberapa ciri khas yang membedakannya dengan norma hukum lainnya, di antaranya:

  • Fokus pada Substansi: Mengatur hak, kewajiban, dan sanksi secara langsung.
  • Bersifat Statis: Menjadi landasan dasar bagi penilaian sebuah tindakan hukum.
  • Menentukan Isi Hukum: Memberikan jawaban atas pertanyaan "apa" hukumnya bagi suatu peristiwa tertentu.

Peran Vital Hukum Formal sebagai Hukum Acara

Jika hukum material berbicara tentang "apa", maka hukum formal berbicara tentang "bagaimana". Hukum formal, atau yang sering disebut dengan Hukum Acara, adalah peraturan hukum yang mengatur cara-cara melaksanakan dan mempertahankan hukum material. Fungsinya adalah untuk memastikan bahwa hukum material dapat ditegakkan secara adil dan prosedural melalui lembaga pengadilan.

Hukum formal bertugas melindungi hukum material agar tidak menjadi aturan kosong di atas kertas. Misalnya, jika terjadi tindak pidana pencurian (pelanggaran hukum material), maka hukum formal (Hukum Acara Pidana) akan mengatur bagaimana polisi melakukan penyelidikan, bagaimana jaksa menyusun dakwaan, hingga bagaimana hakim memutus perkara tersebut. Di Indonesia, regulasi utama yang mengatur hal ini adalah Kitab Undang-Undang Hukum Acara Pidana (KUHAP) dan Hukum Acara Perdata yang tersebar dalam HIR atau RBg.

Fungsi Strategis Hukum Formal

  1. Menjamin Kepastian Prosedur: Memastikan setiap orang diperlakukan sama di depan hukum (equality before the law).
  2. Mencegah Main Hakim Sendiri: Memberikan mekanisme resmi bagi masyarakat untuk mencari keadilan.
  3. Membatasi Kekuasaan Negara: Mengatur wewenang aparat penegak hukum agar tidak bertindak sewenang-wenang dalam proses penegakan hukum.
Proses persidangan di pengadilan sebagai implementasi hukum formal
Sidang pengadilan adalah wujud nyata penerapan hukum formal untuk menegakkan keadilan material.

Perbandingan Komprehensif: Hukum Material vs Hukum Formal

Untuk memudahkan pemahaman, tabel di bawah ini menyajikan perbedaan mendasar antara kedua penggolongan hukum tersebut berdasarkan beberapa parameter penting.

Parameter PerbandinganHukum MaterialHukum Formal (Hukum Acara)
Definisi UtamaAturan yang mengatur isi/substansi hubungan hukum.Aturan yang mengatur tata cara penegakan hukum.
TujuanMenentukan hak, kewajiban, dan larangan.Melindungi dan menjalankan hukum material.
Pertanyaan DasarApa yang diatur oleh hukum?Bagaimana hukum ditegakkan?
Contoh di IndonesiaKUHP, KUHPerdata, UU Tipikor.KUHAP, Hukum Acara Perdata, Hukum Acara PTUN.
SifatSubstansial dan Isi.Adjektif dan Prosedural.
"Hukum material tidak akan berarti apa-apa tanpa adanya hukum formal yang kuat, sementara hukum formal tidak memiliki alasan keberadaan tanpa adanya hukum material yang akan ditegakkan." — Prinsip Dasar Jurisprudensi.

Integrasi Hukum Material dan Formal dalam Kasus Nyata

Dalam praktik hukum, kedua jenis hukum ini bekerja secara simultan dan tidak dapat dipisahkan. Sebagai contoh, dalam sebuah kasus sengketa tanah, hukum material (KUHPerdata) akan menentukan siapa pemilik sah berdasarkan bukti-bukti kepemilikan. Namun, untuk membuktikan kepemilikan tersebut di depan hakim, para pihak harus mengikuti hukum formal (Hukum Acara Perdata), mulai dari pendaftaran gugatan, proses pembuktian, hingga pelaksanaan eksekusi putusan.

Kegagalan dalam mengikuti hukum formal dapat menyebabkan hak-hak material seseorang hilang. Sebagai contoh, jika seorang penggugat memiliki bukti kepemilikan tanah yang sangat kuat (hak material), namun ia salah dalam prosedur pengajuan gugatan atau melewati batas waktu (daluwarsa) yang diatur dalam hukum formal, maka gugatannya bisa dinyatakan tidak dapat diterima (niet ontvankelijke verklaard). Di sinilah pentingnya bagi masyarakat untuk memahami bahwa hukum material dan formal merupakan penggolongan hukum berdasarkan isinya yang saling melengkapi.

Tantangan dalam Penegakan Hukum di Indonesia

Meskipun teorinya sudah jelas, dalam praktiknya sering terjadi perdebatan antara keadilan material dan keadilan formal. Keadilan material adalah keadilan yang hakiki sesuai dengan kebenaran fakta, sedangkan keadilan formal adalah keadilan yang didasarkan pada prosedur hukum yang berlaku. Seringkali, hakim dituntut untuk tidak hanya menjadi "mulut undang-undang" (positivisme hukum), tetapi juga harus mampu menggali nilai-nilai keadilan yang hidup di masyarakat untuk mencapai keseimbangan antara prosedur dan substansi.

Patung dewi keadilan sebagai simbol keseimbangan hukum
Keadilan yang ideal tercapai ketika prosedur formal sejalan dengan kebenaran material.

Kesimpulan

Sebagai rangkuman, hukum material dan formal merupakan penggolongan hukum berdasarkan isinya atau wujudnya dalam sistem hukum. Hukum material memberikan fondasi berupa aturan substansi mengenai apa yang benar dan salah, sementara hukum formal menyediakan instrumen atau prosedur untuk memastikan aturan tersebut dipatuhi. Memahami kedua aspek ini sangat penting bagi setiap warga negara agar dapat menuntut hak-haknya secara benar dan memahami batasan-batasan hukum yang berlaku di Indonesia.

Dengan pemahaman yang komprehensif mengenai perbedaan dan keterkaitan antara hukum material dan formal, kita dapat lebih menghargai pentingnya integritas dalam proses peradilan. Kepatuhan terhadap hukum formal menjamin proses yang adil (due process of law), sementara penghormatan terhadap hukum material memastikan bahwa keadilan substansial dapat dirasakan oleh seluruh lapisan masyarakat.

Editors Team
Daisy Floren

What's Your Reaction?

  • Like
    0
    Like
  • Dislike
    0
    Dislike
  • Funny
    0
    Funny
  • Angry
    0
    Angry
  • Sad
    0
    Sad
  • Wow
    0
    Wow