Sikap Mendasar Yesus dalam Menjalankan Hukum Baru yang Sejati
Dalam perjalanan spiritualitas Kristiani, memahami transisi dari hukum lama ke hukum baru merupakan fondasi yang sangat krusial. Banyak orang bertanya-tanya mengenai esensi dari transformasi yang dibawa oleh Sang Guru. Secara teologis, sikap mendasar yang dikehendaki yesus dalam menjalankan hukum baru adalah kasih yang tulus dan murni yang bersumber dari kedalaman hati manusia, bukan sekadar kepatuhan mekanis terhadap aturan legalistik. Yesus tidak datang untuk meniadakan hukum, melainkan untuk menggenapinya dengan memberikan roh atau nyawa baru ke dalam setiap tindakan religius umat-Nya.
Ketika berbicara mengenai hukum baru, kita tidak bisa melepaskannya dari peristiwa Khotbah di Bukit yang menjadi manifesto besar Kerajaan Allah. Di sana, Yesus memperjelas bahwa standar moral yang Dia tetapkan jauh melampaui standar para ahli Taurat dan orang Farisi pada masa itu. Fokus utama-Nya adalah pada motivasi batiniah. Jika hukum lama melarang pembunuhan, maka hukum baru yang dibawa Yesus melarang kebencian di dalam hati. Hal ini menunjukkan bahwa dimensi internal manusia menjadi panggung utama di mana hukum Tuhan harus ditegakkan secara sempurna.

Memahami Transformasi dari Hukum Taurat ke Hukum Baru
Peralihan dari Perjanjian Lama ke Perjanjian Baru sering kali disalahpahami sebagai penggantian total aturan. Faktanya, Yesus melakukan radikalisasi terhadap hukum yang sudah ada. Beliau membawa umat-Nya untuk melihat melampaui huruf-huruf hukum dan menangkap maksud asli sang Pencipta. Sikap mendasar yang dikehendaki Yesus dalam menjalankan hukum baru adalah transformasi total dari paradigma 'melakukan karena kewajiban' menjadi 'melakukan karena kasih'.
Yesus menekankan bahwa hukum baru ini bukanlah beban tambahan, melainkan jalan menuju kemerdekaan sejati. Dalam pandangan-Nya, seseorang bisa saja melakukan semua perintah agama secara lahiriah, namun hatinya jauh dari Tuhan. Itulah sebabnya, dalam menjalankan hukum baru, kejujuran spiritual menjadi sangat penting. Kita diajak untuk memeriksa apakah tindakan baik kita didorong oleh keinginan untuk dilihat orang lain atau murni sebagai bentuk penyembahan kepada Bapa di surga.
Kasih sebagai Rangkuman Seluruh Hukum
Dalam Injil Matius, ketika ditanya mengenai hukum mana yang paling utama, Yesus menjawab dengan tegas mengenai kasih kepada Allah dan kasih kepada sesama manusia. Inilah kristalisasi dari seluruh pengajaran-Nya. Tanpa kasih, segala bentuk ketaatan terhadap hukum hanya akan menjadi ritual kosong yang tidak memiliki nilai kekekalan. Kasih ini bersifat agape—kasih yang memberi tanpa mengharapkan kembali dan kasih yang rela berkorban demi kebaikan orang lain.
"Aku memberikan perintah baru kepada kamu, yaitu supaya kamu saling mengasihi; sama seperti Aku telah mengasihi kamu demikian pula kamu harus saling mengasihi." - Yohanes 13:34
Konsep kasih ini menjadi pembeda utama. Di bawah hukum baru, kriteria keberhasilan seorang beriman tidak diukur dari seberapa teliti dia mengikuti aturan diet atau ritual pembasuhan, melainkan seberapa besar kapasitasnya untuk mengampuni musuh dan melayani mereka yang terpinggirkan. Inilah yang dimaksud dengan menjalankan hukum dengan roh yang menghidupkan.
Perbandingan Karakteristik Hukum Lama dan Hukum Baru
Untuk memahami lebih dalam mengenai perbedaan fundamental ini, kita perlu melihat bagaimana Yesus mendefinisikan ulang ketaatan. Berikut adalah tabel perbandingan yang menunjukkan perbedaan fokus antara ketaatan konvensional dan ketaatan yang dikehendaki dalam hukum baru:
| Aspek Perbandingan | Hukum Taurat (Lama) | Hukum Baru (Yesus) |
|---|---|---|
| Titik Fokus | Perbuatan Eksternal | Motivasi Internal (Hati) |
| Sumber Ketaatan | Takut akan Hukuman | Kasih kepada Tuhan |
| Tujuan Utama | Kebenaran Diri Sendiri | Kemuliaan Allah |
| Cakupan Kasih | Terbatas pada Sesama Bangsa | Universal (Termasuk Musuh) |
| Sifat Aturan | Legalistik dan Rigid | Spiritual dan Transformatif |
Tabel di atas menunjukkan bahwa sikap mendasar yang dikehendaki yesus dalam menjalankan hukum baru adalah integritas antara apa yang ada di dalam hati dan apa yang nampak dalam tindakan. Yesus menginginkan umat-Nya menjadi pribadi yang utuh, di mana kasih menjadi mesin penggerak dari setiap perkataan dan perbuatan mereka sehari-hari.

Ketulusan dan Kerendahan Hati dalam Pelayanan
Selain kasih, sikap mendasar lainnya yang sangat ditekankan oleh Yesus adalah kerendahan hati. Dalam menjalankan hukum baru, tidak ada tempat bagi kesombongan rohani. Yesus sering mengkritik orang-orang yang memamerkan kesalehan mereka di depan umum agar dipuji. Sebaliknya, Dia mengajarkan agar tangan kiri tidak tahu apa yang dilakukan tangan kanan saat memberi sedekah.
Sikap rendah hati ini memampukan seseorang untuk melihat orang lain sebagai pribadi yang layak dicintai, tanpa memandang status sosial atau latar belakang moralnya. Dengan kerendahan hati, hukum baru dijalankan bukan sebagai alat untuk menghakimi sesama, melainkan sebagai sarana untuk merangkul dan memulihkan. Ini adalah esensi dari pelayanan yang sejati yang meneladani Kristus sendiri yang datang bukan untuk dilayani, melainkan untuk melayani.
- Pengampunan: Kesediaan untuk melepaskan pengampunan tanpa batas (tujuh puluh kali tujuh kali).
- Ketulusan: Melakukan kehendak Tuhan tanpa mencari popularitas duniawi.
- Pengorbanan: Mengutamakan kepentingan orang lain di atas kenyamanan pribadi.
- Keadilan: Membela mereka yang tertindas sebagai wujud nyata dari kasih.
Semua poin di atas merupakan manifestasi dari hukum baru yang hidup. Yesus menginginkan agar setiap pengikut-Nya tidak terjebak dalam rutinitas keagamaan yang kering, melainkan memiliki hubungan yang dinamis dan hidup dengan Tuhan yang kemudian memancar keluar dalam bentuk kepedulian sosial yang nyata.

Menghidupi Panggilan Kasih dalam Keseharian
Pada akhirnya, kita harus menyadari bahwa tantangan terbesar dalam menjalankan hukum baru bukanlah pada pemahaman intelektual, melainkan pada eksekusi praktis di tengah dunia yang sering kali egois. Dunia mungkin mengajarkan kita untuk membalas kejahatan dengan kejahatan, namun hukum baru menuntut kita untuk membalas kejahatan dengan kebaikan. Ini adalah standar yang radikal dan hanya mungkin dilakukan jika kita bersandar pada rahmat Tuhan.
Sebagai vonis akhir, kita dapat menyimpulkan bahwa sikap mendasar yang dikehendaki yesus dalam menjalankan hukum baru adalah kepasrahan diri yang penuh kepada Roh Kudus untuk dibentuk menjadi pribadi yang penuh kasih. Ketaatan kita bukan lagi tentang mengikuti daftar panjang larangan, melainkan tentang mengejar kedekatan dengan Sang Pencipta. Ketika kita mencintai Tuhan dengan segenap hati, maka dengan sendirinya kita akan menjalankan segala perintah-Nya bukan sebagai beban, melainkan sebagai ekspresi syukur yang paling dalam. Langkah praktis selanjutnya bagi setiap orang beriman adalah mulai mempraktikkan kasih dalam skala kecil di lingkungan keluarga dan pekerjaan, karena di sanalah hukum baru benar-benar diuji dan dimurnikan.
What's Your Reaction?
-
0
Like -
0
Dislike -
0
Funny -
0
Angry -
0
Sad -
0
Wow